Bekasi 6 Agustus 2026 – Yayasan Attaqwa menggelar Rapat Terbuka Badan Pembina untuk mendengarkan laporan pertanggungjawaban lima tahunan Badan Pengurus periode 2021–2026 serta laporan hasil pengawasan Badan Pengawas, bertepatan dengan peringatan Milad ke-70 Yayasan Attaqwa yang dirayakan serentak di seluruh cabang dan satuan pendidikan.
Rapat dibuka oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Attaqwa Ustadzah Hj. Sholihah Noer, BA dan dihadiri anggota Badan Pembina, yakni Dr. KH. Abd. Jabar Majid, MA, Al Ustadz H. Muhtadin Mahbub, Ustadzah Hj. Atiqoh Noer, Ustadzah Hj. Ulfah Noer, S.Ag., dan KH. Syamsul Falah, M.Ec. Turut hadir Ketua Badan Pengawas KH. Ahmad Masilla, Lc., M.MPd., jajaran Majelis Mustasyar, Badan Pengurus, para ketua yayasan cabang, serta perwakilan lembaga di lingkungan Yayasan Attaqwa.
Dalam sambutan pembuka, anggota Badan Pembina Dr. KH. Abd. Jabar Majid, MA mengatakan bahwa penyampaian laporan pada akhir masa kepengurusan merupakan tradisi organisasi yang harus dijalankan secara berkesinambungan.
“Sidang Dewan Pembina yang mendengarkan laporan Badan Pengawas dan Badan Pengurus setiap akhir masa kepengurusan merupakan tradisi organisasi yang terus dilaksanakan sebagai bentuk pertanggungjawaban amanah sekaligus penghormatan kepada Badan Pembina sebagai organ tertinggi Yayasan Attaqwa,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Badan Pengawas KH. Ahmad Masilla, Lc., M.MPd. menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada kepengurusan berikutnya. Rekomendasi tersebut meliputi pembangunan database digital penerima beasiswa, lulusan, dan alumni untuk memperkuat jejaring yayasan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui program pelatihan bagi pengurus dan relawan, serta pengembangan program unggulan yang menjadi identitas Yayasan Attaqwa.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Attaqwa Dr. KH. Irfan Mas’ud, Lc. menyampaikan laporan capaian kepengurusan selama lima tahun terakhir.
Ia mengatakan kepengurusan periode 2021–2026 memfokuskan arah kebijakan pada tiga pilar utama, yakni penguatan aset wakaf, peningkatan mutu pendidikan, serta penguatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
“Selama lima tahun terakhir kami membangun Yayasan Attaqwa di atas tiga pilar utama, yaitu memperkuat aset wakaf sebagai fondasi kemandirian, meningkatkan mutu pendidikan sebagai instrumen mencetak generasi penerus perjuangan, serta menguatkan dakwah dan pemberdayaan umat sebagai ruh yang menghidupkan seluruh gerakan Attaqwa,” ujar Kiyai Irfan.
Menurut beliau, pengurus juga melakukan inventarisasi aset, sertifikasi tanah, pemasangan patok batas, pembaruan administrasi pertanahan, serta pendampingan penyelesaian persoalan aset di berbagai cabang. Upaya tersebut, lanjutnya, menghasilkan peningkatan luas aset Yayasan Attaqwa di tingkat pusat menjadi 798.874 meter persegi.
Selain pengamanan aset, Yayasan Attaqwa juga mengembangkan pemanfaatan aset wakaf secara produktif melalui pembangunan sejumlah fasilitas, antara lain Ruko dan ATM Center, ruang-ruang kelas baru, Klinik Pratama Attaqwa, Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK), revitalisasi kawasan Makam Pahlawan Nasional KH. Noer Alie, serta Masjid Annasroh.
Pada bidang pendidikan, Yayasan Attaqwa hingga 2025 mengelola 171 satuan pendidikan dengan 33.971 peserta didik, didukung 4.128 guru dan tenaga kependidikan, serta meluluskan 8.482 peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan.
Di sektor dakwah dan pemberdayaan masyarakat, Yayasan Attaqwa mengembangkan berbagai program, di antaranya safari ukhuwah, zonasi pengajian rutin mingguan, pembinaan masjid dan mushala, kaderisasi pemuda melalui IKRA, pelatihan pemberdayaan masyarakat, digitalisasi sistem pelaporan, serta penyusunan regulasi pengelolaan masjid.
“Kami terus memperkuat dakwah melalui pembinaan umat yang terstruktur, peningkatan kapasitas masyarakat, serta tata kelola organisasi yang semakin profesional dan akuntabel agar manfaat Yayasan Attaqwa dapat dirasakan lebih luas,” kata Irfan.
Ia juga menyampaikan bahwa pada periode kepengurusan ini Yayasan Attaqwa membentuk Attaqwa Care sebagai lembaga resmi pengelola zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), sekaligus membangun jejaring TAZKIAH (Tim Amil Zakat, Infak, dan Sedekah) di berbagai lembaga pusat maupun cabang.
Selain itu, Yayasan Attaqwa memperluas kemitraan dengan berbagai kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga filantropi, sektor perbankan, dan sejumlah mitra strategis untuk mendukung pengembangan pendidikan, dakwah, dan pelayanan masyarakat.
Menutup laporannya, Ketua Umum mengajak seluruh keluarga besar Attaqwa untuk melanjutkan estafet perjuangan yang telah dirintis para pendiri.
“Attaqwa adalah rumah besar kita bersama. Mari kita hidup-hidupkan Attaqwa melalui kerja nyata, pengabdian yang tulus, serta menjaga amanah yang telah diwariskan oleh Almaghfurlah KH. Noer Alie dan para pendahulu kita,” ujarnya.
Bersamaan dengan pelaksanaan rapat terbuka tersebut, seluruh cabang dan satuan pendidikan Yayasan Attaqwa juga menggelar Tasyakur Milad Attaqwa ke-70 yang diisi dengan zikir bersama, doa, serta mauizah hasanah mengenai keteladanan pendiri Yayasan Attaqwa, KH. Noer Alie, sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan pengabdian yayasan selama tujuh dekade di bidang pendidikan, dakwah, dan pelayanan umat.(Humas/abg)





