BEKASI — 19 September 2026. Pondok Pesantren Attaqwa Putri resmi membuka Kelas Internasional dengan mengadopsi kurikulum Cambridge dan pendekatan pendidikan Al-Azhari mulai Tahun Ajaran 2026/2027. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pesantren meningkatkan kompetensi santriwati agar mampu menghadapi perkembangan dunia global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Penjelasan tersebut disampaikan Ustazah Hj. Atiqoh dalam acara Silaturahim Pondok Pesantren Attaqwa Putri dan Laporan Pendidikan Tahun Pelajaran 2025/2026 yang digelar pada Sabtu, 19 September 2026. Acara tersebut dihadiri seluruh wali santriwati.
Untuk mendukung proses pembelajaran, pesantren juga terus mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan. Pengembangan tersebut antara lain dilakukan melalui pembangunan laboratorium IPA dan laboratorium komputer yang ditujukan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
Pembangunan Fasilitas Terus Berjalan
Selain pengembangan program pendidikan, Pondok Pesantren Attaqwa Putri terus melakukan pembangunan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kenyamanan santriwati selama menjalani pendidikan dan kehidupan di lingkungan pesantren.
Pimpinan pondok menjelaskan, pembangunan tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak melalui donasi dan kontribusi masyarakat. Sumber pembiayaan pembangunan antara lain berasal dari SPP, uang pembangunan, serta amal jariyah. “Sumbangan pembangunan melalui biaya SPP, uang bangunan, dan amal jariyah merupakan investasi akhirat bagi kaum muslimin dan muslimat.” Ujar Ustazah Hj. Atiqoh Noer.
Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan keberadaan sejumlah bangunan yang memiliki nilai sejarah bagi Pondok Pesantren Attaqwa Putri.
Salah satunya adalah Asrama Khadijatul Kubra yang bentuk bangunannya masih dipertahankan hingga sekarang. Selain itu, terdapat pula gedung tua di bagian depan kompleks pesantren yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan Attaqwa dan disebut sebagai bangunan yang dibangun oleh KH. Noer Alie.
Kedua bangunan bersejarah tersebut, menurut pimpinan pondok, akan tetap dipertahankan bentuknya sebagai bagian dari jejak sejarah Pondok Pesantren Attaqwa Putri.
Di sisi lain, pembangunan fasilitas baru akan terus diarahkan ke bagian belakang kompleks pesantren. Dari total lahan sekitar 10.000 meter persegi, masih terdapat sekitar 3.000 meter persegi yang akan dikembangkan secara bertahap.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari pembangunan Yayasan Attaqwa sebagai lembaga induk yang menaungi Pondok Pesantren Attaqwa Putra dan Pondok Pesantren Attaqwa Putri.
Digitalisasi Pembayaran Santri
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Ahli Pengembang Kurikulum Pondok Pesantren Attaqwa Putri, Dr. H. Khaerul Umam Noer, memperkenalkan sistem digitalisasi keuangan pesantren. Sistem tersebut menerapkan konsep cashless melalui aplikasi berbasis Android. Aplikasi itu digunakan untuk pembayaran SPP sekaligus transaksi di kantin asrama.
Digitalisasi transaksi di lingkungan pesantren diharapkan dapat membantu pengelolaan keuangan menjadi lebih praktis dan tertata. Sistem tersebut juga diarahkan untuk membantu mengendalikan pola pengeluaran santriwati sehingga penggunaan uang dapat dilakukan secara lebih terukur dan mengurangi perilaku konsumtif.
Pengembangan sistem digital tersebut melengkapi transformasi pendidikan di Pondok Pesantren Attaqwa Putri yang tidak hanya menyentuh aspek akademik, tetapi juga tata kelola kehidupan santriwati.
Kelas internasional Cambridge dan Azhari.
Dr. Khaerul Umam mengatakan perkembangan dunia yang semakin terbuka menuntut lembaga pendidikan untuk membekali peserta didik dengan kompetensi yang relevan, termasuk kemampuan berbahasa asing dan wawasan internasional.
Karena itu, Pondok Pesantren Attaqwa Putri mengembangkan kelas internasional yang memadukan kurikulum Cambridge dengan penguatan pendidikan keislaman. Pada Tahun Ajaran 2026/2027, tercatat sebanyak 61 santriwati mengikuti Kelas Internasional dari total 898 santriwati.
“Program khusus ini mengintegrasikan standar pendidikan internasional, penguatan bahasa asing, dan nilai-nilai keislaman dalam satu sistem pembelajaran.”
Dalam pengembangannya, pendidikan Cambridge diarahkan terutama untuk memperkuat penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan umum. Sementara itu, pendekatan Al-Azhari menjadi bagian dari penguatan ilmu-ilmu keagamaan. Perpaduan tersebut diharapkan memberikan ruang bagi santriwati untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus memperkokoh fondasi keislaman.
Unjuk Kebolehan Santriwati
Silaturahim dan laporan pendidikan tersebut juga diwarnai berbagai penampilan santriwati. Para santriwati menampilkan kemampuan mereka dalam bidang pengetahuan, seni suara, serta berbagai kesenian lainnya.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara sekaligus hiburan bagi para santriwati dan wali yang hadir. Kegiatan itu juga memberikan ruang bagi para santriwati untuk menunjukkan kreativitas dan kemampuan yang mereka kembangkan selama mengikuti pendidikan di pesantren.
Melalui pengembangan Kelas Internasional, pembangunan fasilitas pendidikan, digitalisasi pengelolaan keuangan, serta penguatan program keagamaan dan akademik, Pondok Pesantren Attaqwa Putri terus mengembangkan sistem pendidikan yang memadukan tradisi kepesantrenan dengan kebutuhan pendidikan di era global. (Humas/abg)





