ATTAQWA NEWS

Penguatan Ekosistem Attaqwa: Integrasi semua Kelembagaan sebagai sebuah keniscayaan.

UJUNGHARAPAN — Bekasi, 10 September 2026. Yayasan Attaqwa memasuki babak baru kepengurusan masa bakti 2026–2031 dengan semangat memperkuat tata kelola, kemandirian, pendidikan, serta membangun ekosistem kelembagaan yang terintegrasi. Sinergi antarsemua lembaga di lingkungan Attaqwa dinilai menjadi sebuah keniscayaan untuk mewujudkan cita-cita para pendiri dan memperluas manfaat bagi umat.

Hal tersebut mengemuka dalam acara pelantikan dan pengukuhan Dewan Pembina, Dewan Pengawas, dan Dewan Pengurus Yayasan Attaqwa masa bakti 2026–2031 yang digelar pada Kamis, 10 September 2026, di Aula Utama Yayasan Attaqwa.

Acara tersebut dihadiri Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Mutasyar, para ketua Yayasan Attaqwa cabang, ketua-ketua mushala, serta jajaran pengurus Yayasan Attaqwa. Prosesi pelantikan diawali dengan pengambilan sumpah jabatan bagi jajaran kepengurusan yang menerima amanah untuk periode lima tahun mendatang.

Pelantikan sebagai Peneguhan Amanah

Ketua Dewan Pembina Yayasan Attaqwa, Hj. Sholehah Noer, BA, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelantikan bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali amanah dan tanggung jawab.

Menurutnya, jabatan di lingkungan yayasan tidak semata-mata merupakan sebuah kehormatan, tetapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT.

“Pelantikan ini bukan sekadar pergantian kepengurusan, tetapi merupakan peneguhan amanah. Jabatan dalam yayasan bukanlah kehormatan semata, melainkan amanah dan tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawabannya, bukan hanya di hadapan manusia tetapi juga di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujar Hj. Sholehah.

Ia berpesan agar seluruh pengurus yang baru dilantik menjalankan amanah dengan niat ibadah, keikhlasan, kebersamaan, dan penuh tanggung jawab.

“Jalankanlah amanah ini dengan niat ibadah, dengan keikhlasan, dengan kebersamaan dan dengan penuh tanggung jawab. Jadikan kepengurusan yang baru dilantik ini sebagai momentum untuk membawa Yayasan Attaqwa lebih maju, lebih mandiri, tetapi tetap kokoh memegang nilai-nilai keislaman dan meneguhkan cita-cita para pendiri Yayasan Attaqwa,” pesannya.

Tiga Pesan Dewan Pengawas

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Yayasan Attaqwa, H. Ahmad Masilla, M.M.Pd., mengajak kepengurusan baru untuk melanjutkan berbagai hal yang telah berjalan baik, menyelesaikan program yang belum tuntas, serta mengembangkan berbagai potensi yang masih dapat ditingkatkan.

Ia menitipkan tiga pesan utama kepada para pengurus baru. Pertama, niatkan lillah. Menurutnya, jabatan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat.

Kedua, utamakan musyawarah dengan mendengarkan arahan Dewan Pembina, Dewan Pengawas, serta orang-orang yang mencintai Attaqwa.

Ketiga, jaga integritas, karena nama baik Yayasan Attaqwa merupakan tanggung jawab seluruh unsur yang berada di dalamnya.

“Niatkan lillah. Jabatan ini adalah amanah dan akan dimintai pertanggungjawaban dunia dan akhirat. Utamakan musyawarah, dengarkan Pembina, Pengawas, dan juga mereka yang mencintai Attaqwa. Dan yang ketiga, jaga integritas. Nama baik Yayasan ada di pundak kita semua,” tegas Ahmad Masilla.

Lima Tahun ke Depan: Memperkuat Fondasi dan Membangun Ekosistem

Ketua Umum Yayasan Attaqwa, Dr. KH. Irfan Mas’ud, MA, yang menerima amanah memimpin Yayasan Attaqwa untuk lima tahun ke depan, menyampaikan bahwa kepengurusan baru merupakan bagian dari mata rantai perjuangan panjang yang telah dirintis para pendiri yayasan, khususnya KH. Noer Alie rahimahullah.

Karena itu, kepengurusan periode 2026–2031 akan diarahkan untuk melanjutkan hal-hal yang telah baik sekaligus melakukan penguatan dan pengembangan secara lebih terarah.

Salah satu agenda utama adalah memperkuat tata kelola dan organisasi. Attaqwa saat ini telah berkembang menjadi organisasi besar dengan berbagai unsur kelembagaan, mulai dari badan pembina, badan pengawas, badan pengurus, pelaksana, cabang-cabang, lembaga pendidikan, masjid dan mushala, pengelolaan wakaf, hingga berbagai unit pelayanan.

Penguatan tata kelola diperlukan agar seluruh unsur tersebut dapat berjalan dalam sistem yang tertib, dengan pembagian kewenangan yang jelas, administrasi yang baik, serta koordinasi yang semakin kuat.

Selain itu, Yayasan Attaqwa akan memberikan perhatian terhadap penguatan wakaf dan aset. Wakaf tidak hanya dipandang sebagai aset yang harus dijaga keberadaannya, tetapi juga perlu dikelola secara produktif sehingga memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi umat.

“Wakaf tidak hanya kita jaga keberadaannya, tetapi kita kelola sehingga semakin memberikan manfaat yang nyata bagi umat,” kata KH. Irfan.

Pendidikan Tetap Menjadi Pilar Utama

Agenda berikutnya adalah memperkuat sektor pendidikan sebagai salah satu pilar utama Yayasan Attaqwa. Menurut KH. Irfan, lembaga pendidikan Attaqwa memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan generasi penerus yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berkarakter, berakhlak, memiliki pemahaman agama, kecintaan terhadap ilmu, serta kepedulian kepada umat.

Karena itu, pengembangan pendidikan tetap diarahkan untuk menjaga karakter dan identitas pendidikan Attaqwa di tengah perubahan zaman.

Membangun Ekosistem Attaqwa

Hal yang menjadi salah satu penekanan utama dalam arah kepengurusan lima tahun mendatang adalah membangun ekosistem Attaqwa. Perguruan Attaqwa, Attaqwa Care, amal usaha dan awqaf, Dewan Masjid, serta berbagai lembaga dan unit lainnya dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah ekosistem besar.

Setiap lembaga memiliki fungsi dan peran masing-masing, namun seluruhnya perlu melihat Attaqwa sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, bukan sebagai lembaga-lembaga yang berjalan sendiri-sendiri.

“Kita harus membangun ekosistem Attaqwa. Perguruan, Attaqwa Care, amal usaha dan awqaf, Dewan Masjid, serta seluruh lembaga Attaqwa lainnya merupakan bagian dari satu ekosistem yang saling berkaitan, saling menguatkan, dan saling bersinergi. Kita harus melihat Attaqwa sebagai sebuah kesatuan, bukan sebagai bagian-bagian yang berjalan sendiri,” ujar KH. Irfan.

Menurutnya, pendekatan ekosistem tersebut menjadi penting agar seluruh potensi yang dimiliki Attaqwa dapat dihimpun dan diarahkan untuk mencapai tujuan bersama.

“Kita tidak harus semuanya mengerjakan hal yang sama. Yang penting adalah setiap unsur menjalankan fungsinya masing-masing dengan sebaik-baiknya, saling menghormati kewenangan, saling berkoordinasi, dan menyatukan seluruh ikhtiar dalam satu arah dan satu tujuan: membesarkan Attaqwa dan mengharumkan namanya,” lanjutnya.

Dengan arah tersebut, kepengurusan Yayasan Attaqwa masa bakti 2026–2031 diharapkan mampu membangun organisasi yang semakin kuat, mandiri, profesional, dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman serta cita-cita para pendiri.

Sinergi antarsemua unsur akhirnya bukan sekadar pilihan organisasi, melainkan menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan perjuangan Attaqwa dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, wakaf, kesehatan, dan berbagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. (Humas/abeng)

Artikel Lainnya

ATTAQWA NEWS

Rapat Tahunan Yayasan Attaqwa

Rapat Tahunan Yayasan Attaqwa kembali dilaksanakan pada Kamis (30/5), bertempat di Ruang Rapat Utama Yayasan Attaqwa. Sesuai dengan AD/ART Yayasan
ATTAQWA NEWS

KBIH Attaqwa melepas 239 Jamaah Haji

Acara pelepasan berlangsung di Masjid Jami’ Attaqwa, Ujung Harapan, Bahagia, Kabupaten Bekasi, rabu 5 Juni 2024 sekira pukul 11.00 WIB.