Bekasi, 9 April 2026 — Perguruan Attaqwa resmi membuka kegiatan Asesmen Standarisasi Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Praktik Ibadah yang diikuti ribuan siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Kegiatan ini dipusatkan di Perguruan Attaqwa Pusat dan dibuka langsung oleh Ketua Umum Yayasan Attaqwa di lapangan Pondok Pesantren Attaqwa Putra.
Tercatat sebanyak 3.327 siswa tingkat MI/SD dan 2.968 siswa tingkat MTs/SMP mengikuti asesmen ini. Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung selama satu bulan, mulai 9 April hingga 9 Mei 2026.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Yayasan Attaqwa, Dr. KH. Irfan Mas’ud, MA, menyampaikan harapannya agar seluruh peserta memperoleh ilmu yang bermanfaat. Ia juga menegaskan bahwa Perguruan Attaqwa terus berikhtiar mewujudkan cita-cita besar KH. Noer Alie, yakni membangun “perkampungan surga” melalui pendidikan.
“Cita-cita besar itu adalah melahirkan generasi yang baik, benar, cerdas, berwawasan luas, dan memiliki keterampilan,” ujarnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para kepala madrasah dan sekolah atas dedikasi serta keikhlasan mereka dalam memajukan pendidikan di lingkungan Attaqwa.
Sementara itu, Sekretaris Perguruan Attaqwa, Dr. Khaerul Umam, menjelaskan bahwa asesmen ini merupakan bentuk standarisasi kemampuan dasar siswa.
“Pembukaan asesmen ini merupakan langkah konkret untuk memastikan kemampuan membaca Al-Qur’an dan praktik ibadah sebagai kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh siswa Perguruan Attaqwa,” ungkapnya.
Usai pembukaan asesmen, kegiatan dilanjutkan dengan Halal Bihalal yang diisi tausiyah dari Dr. KH Abdul Jabbar. Dalam ceramahnya, ia mengulas sejarah awal pendidikan di Attaqwa yang telah dimulai sejak tahun 1941 melalui peran Guru Yakub. Ia juga mengutip pesan KH. Noer Alie tentang pentingnya pendidikan yang membekali peserta didik untuk berjuang dalam kehidupan.
“Pendidikan Attaqwa memiliki dua fungsi utama, yakni membentuk insan yang dekat kepada Allah serta menjadi khalifah yang mampu mengelola alam untuk kemaslahatan manusia,” jelasnya.
Tausiyah berikutnya disampaikan oleh Prof. Makmun Murod yang menyoroti kultur keikhlasan dalam organisasi Muhammadiyah. Ia menyebut bahwa kemajuan lembaga pendidikan tidak lepas dari semangat kolektif dan kepemilikan bersama.
“Kultur keikhlasan menjadi kunci. Lembaga bukan milik pribadi, tetapi milik bersama, sehingga dapat terus berkembang,” ujarnya, seraya menggambarkan keragaman kultur di lingkungan Muhammadiyah yang tetap solid dalam tujuan.
Kegiatan ini juga dirangkai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Perguruan Attaqwa dan Universitas Muhammadiyah Jakarta dalam bidang penelitian dan kerja sama pendidikan.
Menutup rangkaian acara, Dr. KH. Irfan Mas’ud, MA kembali menegaskan pentingnya pendidikan yang mampu melahirkan generasi khalifatullah fil ardh. Ia menekankan bahwa siswa tidak hanya harus menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan teknologi.
“Pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu mengelola kehidupan, bukan hanya memahami agama, tetapi juga berkarya untuk kemaslahatan umat. Hidupkan Attaqwa, jangan mencari hidup di Attaqwa,” pesannya.
Kegiatan Halal Bihalal yang menjadi bagian dari acara ini juga dimaknai sebagai upaya meneguhkan tradisi kearifan para ulama pendahulu, sekaligus mengamalkan ajaran Rasulullah dalam mempererat ukhuwah melalui saling memaafkan.(Humas/abg)





