Bekasi — 9 September 2026. Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tahun 2026 dinilai menjadi salah satu pemicu (trigger) kebangkitan semangat warga madrasah dalam meningkatkan kompetensi dan budaya akademik. Meningkatnya jumlah peserta dalam ajang kompetisi pengetahuan tersebut menjadi indikasi semakin kuatnya kesadaran madrasah untuk mengukur dan mengembangkan kemampuan peserta didik melalui kompetisi yang sehat.
Hal tersebut disampaikan KH. Irfan Shidiq, M.Pd., selaku tuan rumah penyelenggaraan OMI 2026 di MTs Attaqwa 03 Babelan. Menurutnya, peningkatan partisipasi dalam OMI menunjukkan adanya kesadaran yang semakin tumbuh di lingkungan madrasah untuk menguji kemampuan akademik sekaligus memberikan pengalaman berkompetisi kepada peserta didik.
“OMI ini menjadi trigger bagi warga madrasah untuk membangkitkan kembali semangat pengetahuan. Peningkatan jumlah peserta merupakan indikasi bahwa kesadaran madrasah untuk menguji kemampuan dan kompetensi pengetahuan peserta didiknya semakin meningkat. Ini tentu menjadi energi positif bagi kebangkitan akademik madrasah,” ujar KH. Irfan Shidiq.
Sebagai tuan rumah, KH. Irfan Shidiq menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta dan tim yang datang untuk berkompetisi dalam berbagai bidang keilmuan. Ia menegaskan bahwa MTs Attaqwa 03 Babelan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik dengan memanfaatkan berbagai sumber daya dan fasilitas yang dimiliki.
“Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh tim yang bertanding dalam bidang keilmuan di OMI 2026. Sebagai tuan rumah, kami ingin memberikan yang terbaik dan memanfaatkan seluruh sumber daya yang kami miliki untuk kepentingan masyarakat, khususnya para siswa madrasah. Kami berharap kehadiran para penuntut ilmu yang berlomba di tempat ini membawa keberkahan bagi kita semua,” tuturnya.
Kepala Kemenag: Madrasah Harus Memiliki Jiwa Pejuang
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi Dr. H. Ujang Ruhiat, M.Ag menilai penyelenggaraan OMI menjadi bagian penting dalam membangun semangat kebangkitan madrasah, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan.
Menurutnya, kompetisi semacam OMI harus mampu mendorong madrasah untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan membentuk peserta didik yang memiliki mental juara.
“OMI ini merupakan bagian dari kebangkitan madrasah dalam bidang pengetahuan. Karena itu, madrasah harus semakin terpacu untuk meningkatkan prestasi dan menjadi juara. Namun, yang lebih penting dari sekadar juara adalah membangun jiwa pejuang. Anak-anak harus memiliki semangat pantang menyerah, berani menghadapi tantangan, disiplin dalam belajar, dan terus berusaha memberikan kemampuan terbaiknya,” tegas Ujang Ruhiat.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan dalam kompetisi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh mentalitas dan ketekunan peserta didik.
“Jadilah generasi yang memiliki mental pejuang. Menang adalah prestasi, tetapi keberanian untuk berjuang, belajar dari kekalahan, dan tidak mudah menyerah adalah karakter yang akan menentukan masa depan,” tambahnya.
Diikuti 1.236 Peserta
OMI Tahun 2026 yang diselenggarakan di MTs Attaqwa 03 Babelan tersebut diikuti sebanyak 1.236 peserta dari berbagai jenjang pendidikan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 429 peserta berasal dari jenjang SD, 464 peserta dari jenjang MTs/SMP, dan 343 peserta dari jenjang MA/SMA.
Pelaksanaan OMI berlangsung selama tiga hari, dengan seluruh rangkaian kegiatan bertempat di MTs Attaqwa 03 Babelan. Untuk mendukung pelaksanaan tes, peserta terbagi ke dalam delapan ruangan tes yang telah dipersiapkan oleh panitia.
OMI Bukan Sekadar Mencari Juara
Saat melakukan monitoring penyelenggaraan OMI 2026, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Dikmad) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, H. Lukmanul Hakim, M.Pd., menegaskan bahwa OMI memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kompetisi untuk menentukan pemenang.
“Penyelenggaraan Olimpiade Madrasah Indonesia ini bukan sekadar kompetisi untuk mencari siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, OMI merupakan ruang untuk mengidentifikasi potensi, membangun budaya akademik, serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menguji kemampuan mereka secara sehat dan sportif,” jelas Lukmanul Hakim yang juga alumni pondok pesantren Attaqwa.
Menurutnya, tantangan pendidikan madrasah saat ini semakin kompleks. Madrasah tidak cukup hanya kuat dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Saya melihat bahwa madrasah hari ini tidak hanya dituntut kuat dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan kompetitif. Karena itu, kegiatan seperti OMI harus kita jadikan bagian dari ekosistem peningkatan mutu pendidikan madrasah,” ujarnya.
Lukmanul Hakim juga menyampaikan apresiasi kepada MTs Attaqwa 03 Babelan yang menjadi lokasi pelaksanaan OMI 2026. Menurutnya, pemilihan lokasi tersebut tidak terlepas dari kesiapan sarana dan prasarana yang dinilai sangat mendukung pelaksanaan kompetisi berbasis teknologi.
“Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada tuan rumah, MTs Attaqwa 03 Babelan. Kami memilih tempat ini sebagai titik lokasi pelaksanaan karena secara sarana dan prasarana sangat lengkap. Di sini tersedia lebih dari 250 komputer dan laptop yang dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan tes, sehingga peserta tidak perlu membawa laptop dari rumah,” ungkapnya.
Ia menilai ketersediaan fasilitas tersebut menjadi salah satu keunggulan MTs Attaqwa 03 Babelan dalam mendukung kegiatan akademik berskala besar.
“Tidak banyak sekolah atau madrasah yang memiliki sumber daya dan fasilitas selengkap MTs Attaqwa 03 Babelan. Ini merupakan potensi besar yang harus terus dimanfaatkan untuk mendukung kepentingan pendidikan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi peserta didik,” pungkasnya.
Penyelenggaraan OMI 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai ajang kompetisi tahunan, tetapi mampu menjadi momentum kebangkitan budaya akademik madrasah, memperkuat semangat belajar peserta didik, serta mendorong madrasah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan.(Humas/abeng)





