Bekasi – 27 Juli 2026. Menyongsong rangkaian Milad ke-70 Attaqwa Yayasan Attaqwa, Pondok Pesantren Attaqwa Putra Bekasi menggelar Workshop Dewan Guru bertema besar penguatan pesantren yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan di tengah era disrupsi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kegiatan yang berlangsung di Aula Serbaguna Yayasan Attaqwa, menjadi momentum penting untuk merumuskan arah pengembangan pesantren dalam menghadapi tantangan tiga dekade ke depan.
Mudirul ‘Am Pondok Pesantren Attaqwa Putra Bekasi, KH. Husnul Amal Mas’ud, Lc., D.E.S.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta regulasi pendidikan yang terus berkembang merupakan tantangan yang tidak dapat dihindari. Namun demikian, menurutnya, pesantren harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai dasar yang menjadi ruh pendidikannya.
“Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-70 Attaqwa yang diharapkan mampu membangun kesamaan visi seluruh guru untuk menatap Attaqwa menuju usia satu abad. Kita tidak hanya memikirkan kebutuhan hari ini, tetapi juga merancang masa depan pesantren hingga tiga puluh tahun mendatang,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagai pesantren yang berada di kawasan urban, Attaqwa memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda dibanding pesantren di wilayah pedesaan. Masyarakat perkotaan yang semakin kritis, ditambah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence dan era disrupsi digital, menuntut lahirnya inovasi pendidikan yang tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.
Workshop yang dimoderatori oleh Ihya Ulumuddin, M.Pd ini menghadirkan dua narasumber dari Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, yaitu KH. Aunurrofiq, M.M., Direktur Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan dan Pengasuhan (LPMPP) Pondok Pesantren Darunnajah, serta Muhammad Towil Akhirudin, S.Si., M.Pd., dari Pusat Pengembangan Pesantren dan Wakaf Universitas Darunnajah
Dalam pemaparannya, KH. Aunurrofiq menjelaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan berasrama, melainkan sebuah manhaj tarbawi yang utuh. Menurutnya, kekuatan pesantren dibangun di atas tiga pilar utama, yakni kiai, santri, dan kitab, yang kemudian berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan visi pendirinya.
“Visi pendiri adalah DNA lembaga. Metode, media, dan manajemen boleh berkembang, tetapi jati diri pesantren tidak boleh berubah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan pesantren saat ini semakin kompleks. Dari sisi eksternal terdapat regulasi pemerintah, tuntutan akreditasi, perubahan karakter masyarakat, serta pengaruh media sosial terhadap pola pikir santri. Sementara dari sisi internal, regenerasi kepemimpinan, profesionalisme pengelolaan, dan kemandirian ekonomi menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan.
Menurutnya, ketergantungan pada iuran santri membuat lembaga rentan. Karena itu, pengembangan aset melalui wakaf produktif menjadi salah satu strategi penting dalam membangun keberlanjutan pesantren. Namun seluruh upaya tersebut tetap harus dilandasi niat utama seorang guru, yaitu mendidik dengan hati sebagai investasi amal untuk kehidupan akhirat.
Sementara itu, Muhammad Towil Akhirudin menyoroti pentingnya sistem kaderisasi yang terstruktur agar keberlangsungan kepemimpinan pesantren tetap terjaga. Ia mengutip pesan Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Prof. Dr. H. Sofwan Manaf Arifin, bahwa kemunduran sebuah pesantren bukan disebabkan berkurangnya jumlah santri, melainkan kegagalan menyiapkan kader pemimpin yang berkesinambungan.
Selain kaderisasi, ia menekankan pentingnya penguatan fondasi kelembagaan melalui legalitas yayasan dan tata kelola aset wakaf. Berdasarkan pengalaman Darunnajah, lemahnya administrasi dan legalitas wakaf dapat memicu konflik yang menghambat perkembangan lembaga.
Menghadapi era Artificial Intelligence, Gus Towil menegaskan bahwa pesantren justru memiliki keunggulan yang tidak akan tergantikan oleh teknologi. Pendidikan karakter, pembentukan adab, keteladanan, serta hubungan intensif antara guru dan santri selama 24 jam merupakan kekuatan khas pesantren yang tidak dapat direplikasi oleh kecerdasan buatan.
Ia juga mengingatkan pentingnya budaya dokumentasi. Seluruh aktivitas kelembagaan perlu didukung oleh arsip, data, dan dokumentasi yang baik, baik dalam bentuk digital maupun dokumen fisik, agar menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjaga kesinambungan pengelolaan pesantren bagi generasi berikutnya.
Kiyai Husnul Amal Mas’ud menjelaskan bahwa kehadiran Darunnajah bukan tanpa alasan. Attaqwa ingin memperkuat silaturahmi sekaligus belajar dari praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan Darunnajah sebagai salah satu pesantren besar di tengah pusaran metropolitan Jakarta. Kedua pesantren juga memiliki kedekatan historis karena sama-sama berakar sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, terdapat tiga pelajaran penting yang layak diadopsi Attaqwa dari Darunnajah. Pertama, kuatnya budaya dokumentasi yang menjaga kesinambungan kelembagaan. Kedua, keberhasilan membangun trust funding melalui pengembangan aset wakaf produktif. Ketiga, sistem manajemen dan kaderisasi yang kokoh, didukung diversifikasi usaha pendidikan maupun unit-unit bisnis sehingga mampu menopang keberlanjutan pesantren. (Humas/abg)
Guru Ihya Ulumuddin, M.Pd berkontribusi dalam penulisan artikel ini.





