Pondok Pesantren

Membangun Generasi Islam Masa Depan: Antara Ajaran Al-Qur’an dan Tantangan Kecerdasan Buatan

BEKASI — Bekasi, 28 September 2026. Pondok Pesantren Attaqwa Putra-putri mendapat kunjungan istimewa dari akademisi dan Guru Besar asal Maroko, Prof. Dr. Khadija Abouzid. Kedatangan akademisi dari “Negeri Matahari Terbenam” tersebut menjadi momentum penting bagi para santri dan guru untuk memperluas wawasan tentang masa depan pendidikan Islam di tengah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Prof. Dr. Khadija Abouzid merupakan Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Mohammed V University, Rabat, Maroko, sekaligus akademisi pada Institut Mohammed VI untuk Kaderisasi Imam dan Dai. Kunjungan tersebut berlangsung dalam rangka silaturahmi, ziarah, sekaligus memberikan ceramah umum dalam kegiatan Jalsah Ilmiyah di Pondok Pesantren Attaqwa Putra.

Prof. Dr. Khadija Abouzid berada di Indonesia sebagai perwakilan Kementerian Wakaf dan Kerajaan Maroko untuk menghadiri International Grand Imams Conference 2026 yang diselenggarakan Kementerian Agama dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta pada 25–28 September 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Khadija mengajak para santri untuk melihat perkembangan teknologi, khususnya AI, secara terbuka dan kritis. Menurutnya, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan nilai etika, transparansi, dan tanggung jawab manusia.

AI Membawa Peluang Sekaligus Tantangan Moral

Dalam ceramah ilmiahnya, Prof. Khadija menekankan pentingnya etika dan transparansi dalam riset serta pemanfaatan kecerdasan buatan. Komunitas ilmiah, menurutnya, perlu terbuka terhadap berbagai perkembangan teknologi baru, tetapi keterbukaan tersebut tidak boleh menghilangkan prinsip-prinsip kemanusiaan.

AI, kata dia, membawa risiko sekaligus peluang. Karena itu, manusia tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga harus memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab dalam penggunaannya.

“Teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan nilai kemanusiaannya. Karena itu, etika, transparansi, dan akuntabilitas harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan kecerdasan buatan,” demikian salah satu pokok pesan Prof. Khadija dalam Jalsah Ilmiyah.

Ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab terhadap penggunaan AI tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada teknologi. Manusia tetap menjadi pihak yang harus memikirkan konsekuensi moral dari setiap perkembangan dan penggunaan teknologi.

Tiga Unsur Manusia: Nafsu, Ruh, dan Akal

Lebih jauh, Prof. Khadija mengaitkan tantangan masa depan dengan pemahaman terhadap hakikat manusia. Menurutnya, membangun generasi Islam tidak cukup hanya dengan memberikan kecakapan intelektual dan penguasaan teknologi. Manusia harus memahami tiga unsur penting dalam dirinya, yaitu nafsu, ruh, dan akal. Ketiganya, kata Prof. Khadija, memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi secara seimbang.

Nafsu memiliki kebutuhan jasmani seperti makan, minum, dan menikah. Sementara ruh membutuhkan asupan spiritual melalui ibadah, dengan salat lima waktu sebagai kewajiban utama serta berbagai ibadah lainnya untuk menjaga dan meningkatkan keimanan. Adapun akal harus terus mendapatkan asupan melalui proses belajar dan menuntut ilmu.

“Manusia harus memahami bahwa dalam dirinya terdapat nafsu, ruh, dan akal. Ketiganya harus mendapatkan asupan yang benar. Nafsu dijaga dan diarahkan, ruh dikuatkan dengan ibadah dan iman, sedangkan akal dikembangkan dengan ilmu pengetahuan,” jelasnya.

Menurutnya, keseimbangan ketiga unsur tersebut menjadi salah satu modal penting bagi manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan masa depan, termasuk menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

Tazkiyatun Nafs dan Pendidikan Generasi Masa Depan

Prof. Khadija juga menjelaskan bahwa seluruh potensi manusia dapat dimaksimalkan melalui proses tazkiyatun nafs atau penyucian dan pembinaan jiwa.

Ramadan, menurutnya, merupakan salah satu medium pendidikan yang disediakan Allah untuk melatih manusia mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan kualitas ibadah, sekaligus memperkuat tradisi keilmuan.

Semangat Iqra’ bismi rabbik menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Membaca dan belajar tidak sekadar menjadi aktivitas intelektual, tetapi harus memiliki orientasi ketuhanan.

Dengan kemampuan mengendalikan nafsu, manusia dapat melahirkan akhlak yang baik. Dengan penguatan ruh, manusia memiliki iman yang kokoh. Sementara dengan pengembangan akal, manusia memiliki ilmu yang tinggi.

Ketiga aspek tersebut, menurut Prof. Khadija, perlu disempurnakan dengan satu bingkai utama, yaitu keikhlasan.

“Akhlak, iman, dan ilmu harus disempurnakan dalam bingkai ikhlas lillahi ta’ala. Dengan keikhlasan, apa yang kita lakukan tidak hanya memiliki nilai di hadapan manusia, tetapi juga memiliki nilai di hadapan Allah.”

Pesan tersebut menjadi relevan bagi pendidikan generasi muda Muslim yang saat ini hidup di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan bersama dengan pembentukan karakter, penguatan iman, dan pembinaan akhlak.

Diterima Pimpinan Pondok Pesantren Attaqwa Putra

Kunjungan Prof. Dr. Khadija Abouzid di Pondok Pesantren Attaqwa Putra diterima langsung oleh jajaran pimpinan pesantren. Hadir Mudir ‘Am Pondok Pesantren Attaqwa Putra KH. Husnul Amal, Lc., D.E.S.A., Naib Mudir KH. Abdul Fattah Khoir, S.Th.I., Kepala MTs KH. Nasruddin Natsir, S.Pd.I., Sekretaris Jenderal Ust. H. Ahmad Syafiudin, M.Ag., Bendahara Ust. H. Didin Muhtadin, S.E., serta Kepala Litbang Ust. Dr. H. Al Fathan, MAITC.

Mudir ‘Am Pondok Pesantren Attaqwa Putra KH. Husnul Amal, Lc., D.E.S.A. menyambut positif kunjungan tersebut. Menurutnya, kehadiran Prof. Khadija memberikan kesempatan berharga bagi para santri dan guru untuk mendapatkan perspektif keilmuan dari akademisi internasional.

Ia menilai, di tengah perkembangan AI dan dunia digital, pendidikan Islam harus tetap menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki hati, nilai, iman, dan tanggung jawab moral. “Kita harus menjaga keseimbangan hati dan nilai di era digital. Jangan sampai manusia di era AI kehilangan keseimbangan hatinya dan hanya menjadi pengikut tren di dunia virtual. Teknologi harus kita manfaatkan untuk menghadirkan dampak positif yang nyata dalam kehidupan,” ujar KH. Husnul Amal yang juga alumni dari negeri matahari terbenam tersebut.

Berlanjut ke Pondok Pesantren Attaqwa Putri

Setelah kegiatan di Pondok Pesantren Attaqwa Putra, kunjungan Prof. Khadija dilanjutkan ke Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Di lingkungan pesantren putri, Prof. Khadija diterima bersama putri-putri almarhum KH. Noer Alie. Hadir Wakil Pimpinan Pondok Ustzh. Hj. Ulfah Noer, Lc., Kepala MA Ustzh. Hj. Abidah Noer, Lc., Kepala MTs Ustzh. Hj. Mahmudah Noer, Lc., serta Ustzh. Dede Zubaidah, M.Pd. dan Ustzh. Hj. Safinatunnajah, M.Pd.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi Prof. Khadija untuk melihat secara langsung kehidupan pendidikan santriwati di Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Ia mengaku terkesan dengan sikap para santriwati yang menunjukkan rasa ta’zhim, ketertiban, dan kesopanan selama mengikuti kegiatan.

Kesan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan adab.

Kunjungan akademisi dari Maroko tersebut akhirnya memberikan pesan yang lebih luas: menghadapi masa depan tidak cukup hanya dengan kecerdasan teknologi.

Generasi Muslim membutuhkan akal yang berilmu, ruh yang beriman, nafsu yang terkendali, serta akhlak yang baik. Di tengah derasnya perkembangan AI, pendidikan Islam ditantang untuk melahirkan manusia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menentukan arah penggunaannya berdasarkan ilmu, iman, akhlak, dan tanggung jawab kepada Allah.

Dengan demikian, kecerdasan buatan tidak harus dipandang semata-mata sebagai ancaman bagi generasi mendatang. Ia dapat menjadi sarana kemajuan apabila berada di tangan manusia yang memiliki ilmu, nilai, akhlak, dan kesadaran moral. (Humas/abg)

 

Artikel Lainnya

Pondok Pesantren

In House Training: Optimalisasi Kinerja Guru dengan Terapi Psikologi di Pondok Pesantren Attaqwa Putri

Bekasi, 27 Juli 2024. Pondok Pesantren Attaqwa Putri menyelenggarakan in house training pada Jumat 26 Juli 2024 dengan tema “Optimalisasi
Pondok Pesantren

Pondok Pesantren Attaqwa Putra Gelar Haflah Iftitah 2024: Maknai Momentum Hijrah Nabi SAW

Pondok Pesantren Attaqwa Putra menggelar acara Haflah Iftitah sebagai bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-68 berdirinya Attaqwa pada Sabtu, 27