ATTAQWA NEWS

Jelang Maulid Nabi, Pohon Kurma di Masjid Attaqwa Ujungharapan Berbuah

BEKASI — 24 Agustus 2026. Pemandangan menarik terlihat di halaman Masjid Jami Attaqwa Ujungharapan, Babelan, Bekasi. Menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang akan digelar pada 25 Agustus 2026, deretan pohon kurma tampak menghijau mengelilingi kawasan masjid. Yang membuatnya semakin istimewa, beberapa pohon tengah berbuah dengan tandan kurma yang mulai berubah warna.

Sebanyak 11 pohon kurma masih berdiri kokoh di lingkungan Pondok Pesantren Attaqwa Putra. Dari jumlah tersebut, dua pohon di antaranya diketahui rutin menghasilkan buah setiap tahun. Sebagian buah yang kini menggantung di tandan mulai memasuki fase pematangan, dari hijau menuju kekuningan.

Pemandangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi santri, jamaah, maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar masjid. Di tengah suasana hijau halaman masjid, pohon kurma memberikan nuansa khas kawasan Timur Tengah sekaligus mengingatkan jamaah pada tanaman yang memiliki kedudukan penting dalam tradisi masyarakat Muslim.

Menurut KH. M. Adib Shaleh, Lc., Al-Hafidz, Wakil Pimpinan Bidang Ubudiyah Pondok Pesantren Attaqwa Putra, pohon-pohon kurma tersebut mulai ditanam pada 2012. Bibitnya merupakan sumbangan dari H. Dasuki Pulo Nangka.

“Awalnya ada 12 pohon kurma yang ditanam. Pohon-pohon itu kemudian tumbuh besar, tetapi tidak semuanya dapat berbuah. Dari 12 pohon tersebut, hanya sekitar tiga yang sempat menghasilkan buah. Sekarang tersisa 11 pohon dan dua di antaranya rutin berbuah setiap tahun,” ujar KH. M. Adib.

Menariknya, pohon kurma di halaman Masjid Jami Attaqwa tidak langsung menghasilkan buah. Menurut pengelola, tanaman tersebut mulai berbuah sekitar sembilan tahun setelah ditanam. Artinya, buah pertama mulai muncul sekitar 2021.

Dari Hijau, Kuning, hingga Cokelat

Buah kurma mengalami beberapa tahapan warna sebelum siap dikonsumsi. Pada tahap awal, buah berwarna hijau dan kemudian berubah menjadi kuning atau kemerahan, tergantung varietasnya. Selanjutnya buah memasuki tahap pematangan dan berubah menjadi warna cokelat hingga cokelat tua.

Namun, perubahan warna tidak selalu menjadi satu-satunya patokan panen. Tingkat kematangan juga dipengaruhi oleh varietas kurma dan tujuan pemanenan. Kurma dapat dipanen pada tahap tertentu ketika buah masih segar dan bertekstur renyah, atau dibiarkan lebih matang hingga kadar airnya berkurang dan teksturnya menjadi lebih lunak serta manis.

“Kalau buah mulai muncul, warnanya masih hijau. Kemudian perlahan berubah kekuningan. Untuk pemanenan, biasanya kami menunggu buah sudah cukup matang, warna dan teksturnya berubah sesuai tingkat kematangannya,” jelas KH. M. Adib.

Keberhasilan pohon kurma berbuah di lingkungan pesantren tentu tidak lepas dari perawatan. Pengurus melakukan penyiraman secara rutin, pemupukan, serta pemangkasan bagian tanaman yang diperlukan.

“Perawatannya dilakukan secara rutin. Pohon disiram, diberi pupuk, dan dipangkas apabila ada bagian yang perlu dirapikan. Perawatan ini kami lakukan agar pohon tetap sehat, tumbuh subur, dan mudah-mudahan terus menghasilkan buah,” katanya.

Kurma, Lanskap Hijau, dan Edukasi

Kehadiran pohon kurma di halaman Masjid Jami Attaqwa bukan sekadar memperindah lingkungan. Tanaman tersebut juga berpotensi menjadi sarana edukasi bagi para santri, terutama untuk mengenal tanaman buah yang identik dengan kawasan Timur Tengah.

Di tengah lingkungan pesantren yang dipenuhi pepohonan dan tanaman hijau, keberadaan kurma menjadi semacam laboratorium alam sederhana. Santri dapat mengamati langsung proses pertumbuhan tanaman, mulai dari pemeliharaan, pembungaan, munculnya buah, perubahan warna, hingga masa panen.

Apalagi, momen berbuahnya pohon kurma bertepatan dengan persiapan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pemandangan tandan kurma yang mulai menguning di halaman masjid seakan menghadirkan suasana tersendiri bagi jamaah yang datang.

Dari 12 pohon yang ditanam lebih dari satu dekade lalu, kini 11 pohon masih bertahan. Dua di antaranya bahkan rutin berbuah. Bagi lingkungan pesantren, kisah tersebut menunjukkan bahwa ketekunan merawat tanaman membutuhkan waktu panjang—tetapi hasilnya dapat menjadi pemandangan yang menarik, sumber pembelajaran, sekaligus bagian dari penghijauan lingkungan masjid. (Humas/abg)

Artikel Lainnya

ATTAQWA NEWS

Rapat Tahunan Yayasan Attaqwa

Rapat Tahunan Yayasan Attaqwa kembali dilaksanakan pada Kamis (30/5), bertempat di Ruang Rapat Utama Yayasan Attaqwa. Sesuai dengan AD/ART Yayasan
ATTAQWA NEWS

KBIH Attaqwa melepas 239 Jamaah Haji

Acara pelepasan berlangsung di Masjid Jami’ Attaqwa, Ujung Harapan, Bahagia, Kabupaten Bekasi, rabu 5 Juni 2024 sekira pukul 11.00 WIB.