Bekasi – Yayasan Attaqwa menggelar kegiatan Ijtima Sanawi Tahun 1447 Hijriah yang dirangkaikan dengan Kick Off Milad Attaqwa ke-70 Tahun pada Sabtu, 30 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penanda dimulainya rangkaian peringatan Milad Attaqwa ke-70 yang akan mencapai puncaknya pada 7 November 2026 di BSI Convention Center, Bekasi Utara.
Mengusung tema “Menguatkan Akar, Menumbuhkan Peradaban”, kegiatan ini dihadiri oleh pengurus yayasan pusat dan cabang, pimpinan lembaga pendidikan, guru, tenaga kependidikan, tokoh masyarakat, serta para undangan dari berbagai elemen umat.
Salah satu agenda penting dalam acara tersebut adalah penyerahan simbolis pataka atau bendera Milad Attaqwa ke-70 sebagai tanda dimulainya rangkaian kegiatan menuju puncak peringatan tujuh dekade perjalanan Attaqwa dalam mengabdi kepada umat, pendidikan, dan dakwah Islam.
Penghargaan Attaqwa Peduli
Pada kesempatan tersebut, Yayasan Attaqwa juga memberikan Penghargaan Attaqwa Peduli kepada lembaga dan unit yang menunjukkan komitmen terbaik dalam program tazkiyah dan kepedulian sosial keumatan.
Penghargaan diberikan kepada sekolah dengan capaian pengumpulan tazkiyah terbaik serta kepada masjid dan mushala yang aktif dalam menggerakkan program-program keagamaan dan sosial di lingkungan masing-masing. Penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh unit di bawah naungan Attaqwa untuk terus meningkatkan kontribusi dan pelayanan kepada umat.
MA Attaqwa Pusat Putra Raih Sertifikasi ISO 21001:2018
Momentum membanggakan lainnya adalah penyerahan Sertifikat ISO 21001:2018 kepada Madrasah Aliyah Attaqwa Pusat Putra dari lembaga sertifikasi TÜV Rheinland Indonesia.
Sertifikasi ini merupakan pengakuan internasional atas keberhasilan madrasah dalam menerapkan Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan (SMOP) yang berorientasi pada mutu layanan pendidikan, kepuasan peserta didik, serta perbaikan berkelanjutan dalam tata kelola lembaga pendidikan.
Kepercayaan Umat Adalah Aset Terbesar Attaqwa
Dalam arahannya, Ketua Umum Yayasan Attaqwa, Dr. KH. Irfan Mas’ud, menyampaikan bahwa saat ini sekitar 35 ribu peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan sedang menempuh pendidikan di lembaga-lembaga yang berada di bawah naungan Attaqwa.
Selain itu, Attaqwa didukung oleh sekitar 4.000 guru dan tenaga kependidikan serta jaringan dakwah yang mencakup kurang lebih 70 masjid dan mushala yang tersebar di berbagai wilayah.
Menurut beliau, seluruh capaian tersebut patut disyukuri. Namun, terdapat satu capaian yang lebih besar dan berharga, yaitu kepercayaan umat yang telah diberikan kepada Attaqwa selama 70 tahun perjalanan pengabdiannya. “Yang paling penting dari semua yang kita miliki adalah kepercayaan umat. Inilah amanah yang harus terus kita jaga dan rawat,” ungkapnya.
Selain itu, beliau mengajak seluruh ketua yayasan cabang untuk secara berkala menyampaikan data perkembangan jumlah peserta didik, kondisi lembaga, serta kelengkapan administrasi kepada yayasan pusat. Langkah ini penting untuk memastikan hubungan antara pusat dan cabang tetap terjaga, terkoordinasi, dan selalu memperoleh informasi terkini mengenai perkembangan lembaga.
Relevansi Kebijakan Stakeholders dalam Memajukan Pendidikan Islam
Dalam sesi ceramah umum bertema “Relevansi Kebijakan Stakeholders dalam Memajukan Pendidikan Islam”, H. Syaiful Huda, M.K.P. menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan masyarakat luas dalam memperkuat pendidikan Islam di Indonesia.
Sebagai pimpinan di Komisi V DPR RI yang membidangi infrastruktur, perhubungan, pembangunan daerah tertinggal, serta perumahan rakyat, beliau menekankan bahwa pengembangan lembaga pendidikan Islam tidak hanya membutuhkan penguatan kurikulum dan sumber daya manusia, tetapi juga dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
Beliau menyampaikan apresiasinya terhadap kiprah Attaqwa dalam membangun peradaban melalui pendidikan dan menyatakan dukungan terhadap pengembangan pondok pesantren sebagai aset strategis umat yang perlu dijaga, diperkuat, dan dikembangkan melalui sinergi berbagai pihak. Menurutnya, keberadaan pesantren memiliki peran penting dalam mencetak generasi berakhlak mulia sekaligus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat.
Peran Lembaga Pendidikan Islam dalam Bingkai Kebijakan Nasional
Sementara itu, dalam mauizah hasanah bertema “Peran Lembaga Pendidikan Islam dalam Bingkai Kebijakan Nasional”, Prof. Dr. KH. Mahmud, M.Si., CSEE menjelaskan bahwa lembaga pendidikan Islam memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya dalam pembentukan karakter, penguatan nilai-nilai moral, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Beliau menekankan bahwa lembaga pendidikan Islam harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislamannya. Dengan demikian, madrasah, sekolah Islam, dan pesantren dapat terus berkontribusi dalam melahirkan generasi yang unggul, berakhlak mulia, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan global. (Humas/abg)





