Bekasi, 11 Juni 2025 — Pemandangan tak biasa terlihat di depan Aula Utama Yayasan Attaqwa, Ujung Harapan, Kabupaten Bekasi, saat berlangsungnya acara Ijtima Sanawi tahun 1446 Hijriah. Di antara deretan karangan bunga ucapan selamat yang berjejer rapi, tampak satu ucapan berbeda mencuri perhatian: sebuah pohon sawo (Manilkara zapota) lengkap dengan pot tanaman.
Bibit pohon itu bukan sekadar hiasan. Ia menjadi simbol ucapan selamat yang lebih ramah lingkungan dan fungsional. “Kalau karangan bunga papan biasanya hanya menyisakan sampah yang menumpuk berminggu-minggu di area pondok,” ujar KH. Husnul Amal, pengasuh Pondok Pesantren Attaqwa Putra. “Tapi kalau bibit pohon ditanam, bisa membantu menghijaukan lingkungan dan buahnya bisa kita nikmati bersama.”
Gagasan mengganti karangan bunga dengan bibit tanaman produktif datang dari kesadaran akan pentingnya konservasi lingkungan dan efisiensi anggaran. Bibit tanaman seperti pohon buah-buahan dianggap memiliki manfaat jangka panjang, tidak hanya untuk penghijauan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan masyarakat.
Nurkholis Wardi, seorang pemerhati tumbuhan yang juga sekretaris umum yayasan saat dikonfrimasi, turut mendukung inisiatif ini. “Biasanya setelah acara, karangan bunga hanya menjadi sampah. Tapi jika diganti dengan tanaman produktif, kita mendapatkan manfaat ganda — lingkungan terjaga dan hasilnya bisa dikonsumsi,” jelasnya.
“Dengan harga bibit lebih murah maka yang terjadi kemudian adalah bukan hanya soal estetika, tapi juga efisiensi dan keberlanjutan. Bibit tanaman punya nilai manfaat nyata,” ungkapnya.
Dengan gerakan ini, diharapkan tradisi baru yang lebih hijau dan produktif bisa menggantikan budaya karangan bunga papan yang selama ini menjadi limbah. Para partisipan, lembaga, dan instansi diharapkan ikut mendukung dengan memilih ucapan selamat yang lebih bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. (Humas/bg)





