BEKASI — Perguruan Attaqwa menggelar seminar pendidikan bertajuk “Mengenali Lebih Awal, Menangani Lebih Tepat: Asesmen dan Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus di RA/TK Perguruan Attaqwa”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 27 Safar 1448 H atau 11 Agustus 2026 M tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Utama Yayasan Attaqwa.
Seminar ini diikuti oleh para kepala sekolah yang tergabung dalam Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) serta guru-guru dari 34 RA di lingkungan Perguruan Attaqwa. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan kompetensi para pendidik dalam mengenali, melakukan asesmen awal, serta memberikan pendampingan yang tepat kepada anak-anak dengan kebutuhan belajar yang beragam.
Sebelum kedua narasumber menyampaikan materi, seminar secara resmi dibuka oleh Sekretaris Perguruan Attaqwa, Dr. H. Khaerul Umam Noer, M.Si. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya para kepala RA dan guru mengikuti kegiatan tersebut dengan sungguh-sungguh.
Menurutnya, pendidikan anak usia dini merupakan fase yang sangat menentukan dalam perkembangan seorang anak. Oleh karena itu, guru tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pembelajaran, tetapi juga memiliki kepekaan dalam memahami kondisi, karakter, perkembangan, dan kebutuhan setiap peserta didik.
“Materi ini sangat penting untuk kita ikuti karena guru RA berada pada posisi yang sangat strategis dalam mengenali perkembangan anak sejak usia dini. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kita harus memiliki pengetahuan dan kepekaan agar mampu mengenali tanda-tanda perkembangan yang memerlukan perhatian khusus, kemudian memberikan pendampingan yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak,” ujar Dr. H. Khaerul Umam Noer, M.Si.
Ia menambahkan bahwa pemahaman mengenai anak berkebutuhan khusus tidak boleh menimbulkan sikap pelabelan atau diskriminasi. Sebaliknya, pengetahuan tersebut harus menjadi bekal bagi guru untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih manusiawi, ramah anak, dan berorientasi pada perkembangan setiap individu.
“Kita tidak boleh terburu-buru memberikan label kepada anak. Yang harus kita lakukan adalah memahami, mengamati, melakukan asesmen secara tepat, dan kemudian menentukan bentuk pendampingan yang sesuai. Seminar ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas guru-guru RA Perguruan Attaqwa agar setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, dan belajar secara optimal,” katanya.
Pentingnya Asesmen dan Pendampingan Sejak Usia Dini
Salah satu narasumber, Dr. Weny Safitry S. Pandia, M.Si., Psikolog dari Unika Atma Jaya Jakarta, menyampaikan materi mengenai pentingnya pemahaman terhadap tumbuh kembang anak, asesmen, pendampingan, serta penguatan lingkungan belajar yang ramah bagi semua anak.
Dalam bidang pendidikan inklusif, Dr. Weny memiliki perhatian pada pelaksanaan pendampingan asesmen, perancangan program adaptasi kurikulum, serta penguatan lingkungan belajar yang ramah anak. Pengalaman dan keahliannya juga berkaitan dengan strategi penanganan serta pengembangan keterampilan anak yang memiliki hambatan emosional, sosial, maupun inteligensi.
Selain itu, perhatian terhadap pendidikan anak usia dini dan parenting menjadi bagian penting dalam pendekatannya. Pemahaman mengenai pola pengasuhan orang tua, tumbuh kembang anak, serta adaptasi pola belajar di era digital menjadi aspek yang perlu dipahami bersama oleh guru dan keluarga.
Materi tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan penyelenggaraan pendidikan di tingkat Raudhatul Athfal di lingkungan Perguruan Attaqwa. Pada jenjang usia dini, guru memiliki kesempatan yang besar untuk mengamati perkembangan anak dalam berbagai aspek, mulai dari kemampuan berkomunikasi, sosial-emosional, motorik, kognitif, hingga kemampuan beradaptasi di lingkungan belajar.
Melalui pemahaman yang baik terhadap proses asesmen, guru RA diharapkan mampu melakukan pengamatan perkembangan secara lebih sistematis. Hasil pengamatan tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar untuk menentukan strategi pembelajaran dan bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Pendekatan ini juga mendorong terbangunnya komunikasi dan kerja sama antara sekolah dengan orang tua. Guru dan keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama bahwa perkembangan anak membutuhkan pendampingan bersama, sehingga setiap kebutuhan anak dapat direspons secara tepat tanpa mengabaikan potensi dan keunikannya.
Membangun Pendidikan Inklusif yang Ramah Anak
Narasumber berikutnya, Dr. Suharsiwi, M.Pd., merupakan akademisi, dosen, dan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Ia mengajar di Fakultas Ilmu Pendidikan, khususnya pada Program Studi Magister Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Bidang keahlian Dr. Suharsiwi berfokus pada Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, Pendidikan Inklusif, dan Pendidikan Anak Usia Dini. Ia memiliki pengalaman luas dalam penelitian mengenai model pembelajaran bagi anak dengan hambatan emosional, sosial, dan kesulitan belajar. Ia juga dikenal melalui karya referensi mengenai pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Dalam materi yang disampaikan, pemahaman mengenai pendidikan inklusif menjadi bagian penting dalam membangun layanan pendidikan yang mampu menerima keberagaman anak. Pendidikan inklusif tidak semata-mata berkaitan dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus di sekolah umum, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan lingkungan sekolah dalam memberikan ruang belajar yang aman, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Konsep tersebut sangat relevan diterapkan di 34 RA di lingkungan Perguruan Attaqwa. Pada pendidikan usia dini, proses pembelajaran perlu memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai dengan tahap perkembangan dan kemampuannya.
Guru tidak dapat menerapkan satu pendekatan yang sama untuk seluruh anak. Dalam praktiknya, terdapat anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami instruksi, anak yang memerlukan pendekatan komunikasi tertentu, anak yang mengalami hambatan dalam bersosialisasi, maupun anak yang memiliki kesulitan dalam mengendalikan emosi.
Melalui pemahaman mengenai asesmen dan pendidikan inklusif, guru RA diharapkan dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih adaptif. Adaptasi tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi, penyesuaian aktivitas, pemberian pendampingan secara bertahap, serta penciptaan lingkungan kelas yang aman dan tidak memberikan stigma kepada anak.
Penerapan pendidikan inklusif di lingkungan RA Perguruan Attaqwa juga dapat dimulai dengan memperkuat budaya sekolah yang menghargai perbedaan. Anak-anak perlu dididik dalam lingkungan yang menumbuhkan sikap saling menghargai, empati, kepedulian, dan kasih sayang sejak usia dini.
Dengan demikian, keberagaman kemampuan dan perkembangan anak tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari realitas pendidikan yang harus dipahami dan direspons melalui layanan yang tepat.
Kepala RA Nilai Materi Sangat Dibutuhkan
Salah seorang kepala RA Attaqwa Fahria Zulfa yang mengikuti seminar tersebut mengaku merasakan pentingnya materi yang disampaikan kedua narasumber. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan penguatan bagi para pimpinan dan guru RA dalam menghadapi keberagaman karakter serta kebutuhan perkembangan anak di lingkungan sekolah.
Ia menilai, dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari guru sering menemukan anak-anak dengan karakter dan perkembangan yang berbeda. Namun, tanpa pemahaman yang memadai, guru dapat mengalami kesulitan dalam menentukan langkah pendampingan yang tepat.
“Materi ini sangat kami butuhkan, terutama bagi kami yang setiap hari berhadapan langsung dengan anak-anak usia dini. Kadang-kadang kami menemukan anak yang memiliki perkembangan atau perilaku yang berbeda dengan teman-temannya. Setelah mengikuti seminar ini, kami semakin memahami bahwa guru harus melakukan pengamatan dengan lebih baik dan tidak terburu-buru memberikan penilaian atau label kepada anak,” ujarnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh dari seminar tersebut tidak berhenti pada kegiatan satu hari, tetapi dapat diterapkan secara nyata di masing-masing RA.
“Kami berharap setelah kegiatan ini, kepala RA dan guru-guru dapat membawa pemahaman baru ke sekolah masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu ini diterapkan dalam kegiatan pembelajaran, dalam melakukan komunikasi dengan orang tua, serta dalam memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak,” katanya.
Menurutnya, peningkatan kompetensi guru mengenai asesmen perkembangan dan pendampingan anak berkebutuhan khusus merupakan kebutuhan yang semakin penting. Sebab, pendidikan anak usia dini merupakan fondasi awal yang menentukan proses perkembangan dan pendidikan anak pada jenjang berikutnya.
Seminar ini diharapkan menjadi langkah penguatan bersama bagi seluruh RA di lingkungan Perguruan Attaqwa untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Dengan kemampuan mengenali kebutuhan anak sejak dini, melakukan asesmen secara tepat, membangun lingkungan belajar yang inklusif, serta menjalin kolaborasi dengan orang tua dan tenaga profesional, pendidikan RA di Perguruan Attaqwa diharapkan semakin mampu memberikan layanan terbaik bagi setiap anak.
Melalui semangat “Mengenali Lebih Awal, Menangani Lebih Tepat”, para pendidik RA Perguruan Attaqwa diharapkan tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi pendamping yang peka terhadap perkembangan anak, memahami keunikan setiap peserta didik, serta mampu menghadirkan pendidikan yang ramah, inklusif, dan berorientasi pada tumbuh kembang anak secara optimal. (Humas.abg)





